Siapa Yang Menunggak BPJS? Siap-siap Ditagih Oleh 3.000 Debt Collector

Siapa Yang Menunggak BPJS? Siap-siap Ditagih Oleh 3.000 Debt Collector
Siapa Yang Menunggak BPJS? Siap-siap Ditagih Oleh 3.000 Debt Collector

Jakarta- Terkait banyaknya anggota Badan Penyelenggara Jaminan Sosial( BPJS) yang masih menunggak pembayaran premi, BPJS Kesehatan terus melaksanakan sosialisasi malahan penagihan langsung kepada 15 juta anggota.

Penagihan tersebut dicoba lewat para sukarelawan yang jadi kader Jaminan Kesehatan Nasional( JKN). Hingga Juni 2019 kemudian, terhitung jumlah kader sukarelawan ini sampai menggapai 3. 288 orang.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Kepala Humas BPJS Kesehatan Muhammad Iqbal Anas Maruf menyebut, sistem kerja para sukarelawan dicoba dengan memakai tele- collecting, menelpon sampai SMS ke para anggota yang menunggak. Metode kerjanya dapat dibilang mirip dengan debt collector ataupun para penagih utang.

Meski kader JKN melaksanakan penagihan seperti seseorang debt collector, Iqbal menarangkan sukarelawan ini tidak diperkenankan meminta duit secara langsung. Tetapi, anggota hendak ditunjukan ke tempat pembayaran formal.

" Skema penagihannya tidak langsung dibayarkan pada sukarelawan. Tetapi dapat ke loket BPJS ataupun dimohon ke rekanan BPJS Kesehatan semacam mini market yang ditunjuk serta ATM," kata Iqbal.

Ada pula tugas lain dari terdapatnya para kader JKN ialah:

1. Pengingat serta Pengumpul Iuran

2. Sosialisasi serta Bimbingan mengenai program JKN- KIS

3. Registrasi anggota JKN- KIS

4. Pemberian data serta menerima keluhan

Supaya tidak terdapat yang mengatasnamakan selaku kader JKN, kenali tanda- tandanya bagaikan berikut:

BPJS Kesehatan Memiliki 3. 000 Debt Collector, Siap- siap Ditagih

Hendaknya kantor operasional bpjsnya tidak harus terdapat lagi, jadi semacam di amerika, seluruh layanan kesehatan, terintegrasi dalam satu layanan penduduk. Jadi ga butuh terdapat kantor serta ga butuh terdapat karyawan. Langsung terintegrasi ke dinas kesehatan provinsi terpaut ataupun nasional.

Sumber: detik.finance

LihatTutupKomentar